Kamis, 29 Desember 2016

Tantangan Muslimaha Di Zaman Modern


Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Sega puji hanya bagi Allah Rabbul’alamiin, yang tiada henti  melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua, nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Bukankah Allah telah berfirman dalam QS An Nahl : 18
  الله لا تحصوها  ان الله لغفوررحيم نعمة تعدوا وان
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang”.
Salah satu nikmat Allah adalah hidayah, hidayah lahir dalam keadaan Islam, berada ditengah-tengah keluarga Islam. Namun, kadang kita terlena dengan status beragama Islam yang sudah melekat sejaak lahir sehingga tidak bangga dengan syari’at Islam.
Lalu bagaimana dengan muslimah?
Mengapa saya bertanya seperti itu? Karena pada zaman yang semakin modern ini banyak sekali muslimah yang salah dalam memilih jalannya. Karena muslimah sangat rentan sekali terpengaruh oleh dunia luar yang membuat mereka terlena dan lupa dengan identitas dirinya.
Mari kita mengenal kembali identitas para tiang Negara ini.

Apa Itu Muslimah?
Seperti pada umumnya bahwa seorang perempuan yang memeluk keyakinan Islam sering kita sebut muslimah. Tapi apakah gelar muslimah itu disandang pada setiap muslim perempuan ataukah memang gelar tersebut  hanya disandangkan pada perempuan tertentu?
Maka kita cari tahu apa itu muslimah. Kata muslimah berasal dari bahasa Arab. Berasal dari kata Muslim (مسلم)  adalah secara harfiah berarti “seseorang yang berserah diri kepada Allah”, termasuk segala makhluk yang ada di langit dan bumi. Kata muslim kini merujuk kepada penganut agama Islam saja, kemudian pemeluk agama Islam pria disebut dengan Muslimin (مسلمين), pemeluk Islam wanita disebut Muslimah (مسلمه).
Pengertian dari Muslimah itu  ialah seorang wanita yang memeluk keyakinan (Agama) Islam. Jadi setiap perempuan yang dilahirkan ke dunia dan memeluk agama Islam maka patutlah ia menyandang gelar Muslimah.
Menjadi Muslimah adalah amanah yang harus dipikul oleh setiap perempuan Islam. Namun dewasa ini untuk menjadi seorang perempuan yang kaffah dijalan agama yang kita yakini ini tidaklah mudah. Saat ini kita hidup di dunia yang begitu bebas, kebebasan yang hamper tidak ada batasnya. Pilihan bagi kita sebagai Muslimah adalah apakah kita harus mengikuti arus kebebasan yang kian deras, ataukah kita  yang seharusnya membuat batasan-batasannya agar kita tidak terseret oleh derasnya arus kebebasan zaman.
Semua itu adalah tantangan untuk kita semua sebagai perempuan yang hidup dimasa kini. Saat dimana kita berpenampilan serba tertutup dikiranya seorang perempuan yang norak bahkan ada yang mengkategorikan kedalam salah satu pengikut golongan radikal.
Tapi seperti apapun itu, sebagai pengikut ajaran yang benar, ajaran yang diridhoi Allah SWT jangan kita berputus asa, karena disetiap zaman ada tantangan-tantangannya sendiri.
Untuk kita perempuan muslimah, semoga kita tetap ada dijalanNya. Sekeras apapun zaman menantang kita, tetaplah tangguh dalam menghadapinya.

Pandangan Masyarakat Terhadap Muslimah Zaman Sekarang
Seperti yang kita ketahui bahwa wanita adalah setengah dari bangsa, karena memiliki pengaruh besar bagi keberlangsungan sebuah bangsa, terlebih wanitalah yang yang akan melahirkan dan mendidik para generasi bangsa yang akan datang sekaligus member pengaruh pertama kali bagi generasi dan pemimpin bangsa. Itulah sebabnya wanita disebut juga sebagai tiang Negara.
Dewasa ini memang dunia semakin gila saja. Bagaimana tidak, dulu orang cari uang biar bias tutup aurat tapi sekarang orang buka aurat untuk bias cari uang. Rasululah SAW sudah mengingatkan bahwa fitnah terbesar sepeninggal beliau adalah wanita. Karena wanita Negara bias hancur.
Dalam kehidupan sebagai wanita muslimah di zaman ini, kehidupan dengan segala ‘keanehannya’. Dalam beberapa hal begitu serius, tapi dalam hal-hal yang lain sangat jurang dan jauh dari nilai-nilai agama. Sebagai contoh, kita bisa menyaksikan seorang wanita muslimah yang salehah, melaksanakan syiar-syiar Islam. Namun, tidak menghiraukan kebersihan mulut dan dirinya. Tidak peduli dengan kesehatan dan aroma yang keluar dari mulut atau tubuhnya. Atau sebaliknya, begitu besar perhatiannya terhadap kesehatan dan kebersihan dirinya tapi melalaikan ibadah dan pelaksanaan syiar-syiar Islam. Ada yang semangat belajar Islamnya baik. Antusias menghadiri majelis-majelis ilmu, tapi tidak menjaga lisannya dari ghibah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba). Ada yang hubungan pribadinya dengan Allah SWT baik, tapi tidak menjaga hubungan baik dengan tetangga dan teman-temannya. Dan masih banyak lagi contoh-contohnya.
Jadi muslimah itu tantangannya berat, pakai pakaian yang menutup aurat dibilang sok alim, dibilang norak, dibilang kuper dan sebagainya. Justru yang memakai pakaian minim mereka anggap wajar bahkan mereka lebih senaang melihat perempuan dengan pakaian seperti itu karena mereka menganggap bahwa itu fashion zaman sekarang.
Tak sedikit muslimah yang awalnya menutup aurat terlena oleh omongan orang dan kemajuan zaman sehingga membuat mereka ingin berpenampilan masa kini tanpa memperhatikan aturan berbusana menurut Islam. Muslimah tersebutlah yang tidak punya pendirian yang suka mengikuti trend yang salah dan menghiraukan kata orang. Bagi mereka yang sudah terlena membuat mereka berfikiran bahwa dengan mengikuti trend zaman sekarang maka mereka akan terlihat lebih cantik dan menarik tanpa memikirkan apa akibat yang akan timbul.
Tapi tidak semua wanita masa kini ter-cap negative dari pandangan masyarakat. Yang tersebut diatas adalah sebagian masyarakat yang melihat wanita sedang dalam keadaan terseret arus zaman dan wanita-wanita yang tersebut diatas juga sebagian wanita yang sedang dalam keadaan dirinya salah memilih jalannya. Masyarakat akan menilai wanita sesuai dengan apa yang mereka lihat, ketika mereka melihat wanita sholihah maka mereka akan mengatakan yang baik-baik. Jadi penilaian mereka sesuai dengan apa yang mereka amati. Berbeda juga dengan penilaian masyarakat kota dan masyarakat desa, karena kondisi wanita-wanitanya juga sudah sangat jauh berbeda.
Oleh sebab itu, kita sebagai muslimah haruslah pandai-pandai mencerna apa kata orang dan pandai-pandai memilih pergaulan agar tidak salah jalan. Tentunya didasari dengan iman yang kuat, karena semakin zaman modern akan semakin sulit menjaga agar iman kita kuat.

Perbandingan Muslimah Zaman Dahulu dan Zaman Sekarang
Beda wanita zaman dulu dan zaman sekarang adalah wanita zaman dulu tentunya sekarang sudah menjadi tua alias nenek-nenek. Memang benar, seiring bergulirnya zaman, ada perbedaan dari segi norma, sikap, dan cara pandang.
Dulu perempuan-perempuan berakhlak sangat baik dan sangat sopan kepada siapapun, namun sekarang cara mereka berbicara dan berperilaku sangat berbeda dari perempuan zaman dulu. Sekarang sudah jarang sekali menemukan yang berakhlak baik dan sopan tersebut. Apalagi bagi mereka yang tinggal diperkotaan maka akan sangat minim sekali menemukannya.
Itu adalah contoh sebagian kecil saja, masih banyak juga yang masih mempertahankan norma-norma yang baik yang pernah diajarkan oleh orang tuanya dan gurunya. Pada intinya semua itu tergantung pada pribadi muslimah sendiri.

Cara Agar Muslimah Tetap Benar Dijalan Allah
Dalam kehidupan yang semakin  modern dan berkembang ini, kita dihadapkan pada gejala fakta fatamorgana, dimana sesuatu yang baik dan benar dianggap asing dan dipandang miring. Maka kewajiban kita adalah bagaimana caranya agar kita tetap berada dijalan yang Allah ridhoi. Melaksanakan semua perintah Allah SWT dan RasulNya serta menjauhi segala larangannya sejauh-jauhnya. Karena kita tahu bahwasannya maut menjemput bisa dimana sajaa dan kapan saja. Lalu apakah kita mau mati dalam keadaan su’ul khotimah? Sebagai seorang muslim pastilah khusnul khotimah sebagai impian tertinggi pada kehidupan yang fana ini. Cara-cara berikut akan membuat kita tetap berada dijalan Allah, jalan yang diridhoi. Dizaman sekarang ini memang iman kita ssemua sedang diuji, maka bagaimana agar kita tetap terus dijalan Allah, berikut akan terpapar beberapa caranya.
1)      Istiqomah
Istiqomah memang tidak mudah namun bukan hal yang mustahil. Apabila diniatkan dengan sungguh-sungguh, maka istiqomah akan mengalir dengan sendirinya, menjadi kebiasaan dan kebudayaan dalam hidup. Istiqomah adalah upaya seseorang untuk menempuh ajaran agama Islam yang benar dengan tidak berpaling ke kanan maupun ke kiri. Istiqomah ini mencakup pelaksaan semua bentuk ketaatan kepada Allah lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk laranganNya.
Kita tentunya harus mempertahankan norma-norma sebagai seorang muslimah dengan diantaranya tetap istiqomah menutup aurat. Jangan sampai kita  terbawa arus zaman sehingga membuat kita kehilangan identias diri kita yang sangat mulia ini.
2)      Memiliki Iman Yang Kuat
Tak seorangpun bisa menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam keimanan sehingga meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Untuk itu kita perlu merawat bahkan senantiasa  berusaha menguatkan keimanan kita. Tsabat (kekuatan keteguhan iman) adalah tuntutan asasi setiap muslim. Karena pada zaman ini kaum muslimah hidup di tengah berbagai  macam fitnah, syahwat dan syubhat. Semua itu sangat berpotensi menggerogoti iman. Maka kekuatan iman adalah kebutuhan mutlak. Bahkan lebih dibutuhkan disbanding pada generasi para sahabat, karena kerusakan manusia  di segala bidang telah menjadi fenomena umum.
Pembahasan masalah ini berkaitan erat dengan masalah hati. Padahal Nabi SAW bersabda: “Dinamakan hati karena ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin.” (HR. Ahmad, Shahihul Jami’ no. 2361)
Maka mengukuhkan hati yang senantiasa berbolak-balik itu dibutuhkan usaha keras, agar hati tetap teguh dalam keimanan.
Muslimah di zaman memang benar-benar akan sulit sekali menjaga iman karena godaan dunia yang begitu dahsyatnya. Oleh karena itu kita harus selalu senantiasa menguatkan iman kita agar tidak terjerumus pada hal-hal yang dapat merusak diri kita dan tentunya iman kita.
3)      Berpengetahuan Agama
Kita bisa amati bahwa zaman sekarang banyak sekali wanita muslimah yang telah tersebut didalam contoh yang telah terpapar di atas tadi dengan segala macam keanehannya. Kalau kita merasa heran dari ini semua, keheranan kita akan bertambah ketika  mengetahui bahwa itu semua muncul dari para wanita muslimah yang memiliki tingkat kesadaran yang cukup baik terhadap agama ini. Dari para muslimah yang tumbuh dalam lingkungan Islam dan memiliki bekal pengetahuan agama yang tidak sedikit ini kadang-kadang dikarenakan tidak peduli atau tidak memiliki pandangan yang utuh yang telah diajarkan Islam. Pandangan yang menyeluruh tentang manusia, kehidupan, dan alam sekelilingnya. Pandangan yang mendorong seseorang untuk melihat segala sesuatu dengan seimbang. Tidak memprioritaskan satu aspek dengan mengorbankan aspek lain.
Orang yang memperhatikan dengan cermat ayat-ayat Qur’an dan hadits-hadits akan mendapati begitu banyaknya dalil yang seharusnya dimiliki wanita muslimah dalam hubungannya dengan orang lain. Tatanan hidup yang mengatur segala sesuatu dari yang besar sampai yang kecil. Semua nash tersebut akan memberikan rambu-rambu yang mengantarkan pada kehidupan yang terarah dan seimbang. Kehidupan yang menjamin kebahagiaan, kesuksesan di dunia dan keberuntungan yang sangat besar di hari kemudian.
Semua ini yang telah digariskan oleh Islam dalam Al-Qur’an dan sunnah akan mengantarkan seorang wanita muslimah mendapatkan kepribadiannya yang asli. Kepribadian yang sejalan dengan fitrahnya. Sehingga melahirkan wanita muslimah yang unggul, mulia dan istimewa dalam peasaan, pemikiran, perilaku dan hubungannya.
Mencapai tingkat tersebut sangatlah penting bagi kehidupan umat manusia secara umum karena wanita memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan generasi mendatang, mencetak para pejuang, menambahkan nilai-nilai, menghiasi kehidupan dengan cinta,kasih sayang dan keindahan serta memenuhi rumah tangga dengan rasa aman, tenang, tentram dan damai.
Wanita muslimah adalah satu-satunya wanita yang sanggup menerangi dunia wanita modern yang telah jenuh dengan filsafat materialism dan pola hidup jahiliyah yang mendomisili kehidupan masa kini. Hal itu dengan mengenalkan dirinya, menghadapkan dirinya pada sumber pemikiran yang murni untuk kemudian menata kembali kepribadiannya yang asli yaitu kepribadian yang telah dibentuk oleh Al-Qur’an dan Assunnah.
Mudah-mudahan Allah SWT memberikan taufik pada kita semua untuk istiqomah dalam agama yang telah dibawa Rasulullah SAW.

Kisah Inspiratif Tokoh Muslimah
1.    Khadijah binti Khuwailid
Siapa yang tak mengenal nama Siti Khadijah? Seorang istri dari Nabi sepanjang zaman. Dari cerita dalam sejarahnya, kita tahu bahwa ia adalah seorang perempuan shalihah pilihan Allah yang dijadikan sebagai pendamping Nabiyullah Muhammad SAW. yang memiliki keteguhan dalam memegang prinsip sekaligus pengusaha sukses yang rela mengeluarkan harta kekayaannya demi memperjuangkan agama. Dialah Siti Khadijah al-Kubra.
Diawal masa Nabi Muhammad diangkat menjadi seorang Nabi, beliaulah yang tak pernah lelah membesarkan hati Nabi Muhammad untuk teguh dalam menerima perintah dari Tuhannya. Saat Nabi dilanda kebimbangan dan ketakutan atas dalam risalah besar yang baru diterimanya, Khadijah-lah yang mendorong dan meyakinkannya serta memberikan banyak masukan kepadanya.
Sejarah juga telah mencatat bahwa Khadijah termasuk kedalam golongan Assabiqunal Awwalun, yakni golongan orang-orang yang pertama kali mengimani kerasulan Nabi Muhammad SAW. namun lebih dari itu, banyak hal yang tidak bias kita lupakan tentang kepribadian perempuan shalihah ini yang begitu banyak menginspirasi para kaum hawa.
Ada beberapa hal yang bias kita contoh dari keteladanan beliau sebagai istri Nabi, diantaranya:
ü Memilih suami dengan mengutamakan akhlak
Siapa yang tidak menginginkan Siti Khadijah kala itu? Banyak laki-laki yang ingin meminangnya, namun ia lebih memilih Nabi Muhammad karena akhlaknya yang sangat mulia. Meskipun usia Nabi Muhammad terpaut jauh dengan usianya dan bukan dari golongan bangsawan. Namun hal itu bukanlah factor penghalang untuk ia memilih menikah dengan Nabi Muhammad SAW.
ü Kesabarannya sebagai seorang istri
Hal apa yang lebih menyejukkan hati suami selain sikap sabar dari seorang istri. Kecantikan memang penting, namun kesabaran terasa jauh lebih penting. Kekayaan, kecantikan dan kecerdasan merupakan faktor yang bias dinikmati saat kondisi keluarga dalam keadaan tenang dan damai tanpa masalah. Namun, disaat keluarga dilanda berbagai masalah, selain faktor kesabaran, rasanya tidak ada lagi yang bias diharapkan. Kesabaran seorang istri merupakan faktor penentu dalam kebahagiaan rumah tangga.
Khadijah memiliki kesabaran yang tak terbatas, ia merupakan sosok istri yang begitu sempurna yang selalu menemani Rasul saat orang-orang tidak mempercayainya, mengingkarinya dan menjauhinya. Khadijah justru melindungi dan selalu menolong Nabi Muhammad ketika orang-orang berusaha untuk mencelakainya.
ü Setia dan penuh kehangatan
Setelah ia menjadi seorang istri dari Nabi Muhammad, ia menunjukkan kesetiaannya untuk selalu mendampingi Nabi Muhammad dalam keadaan susah maupun senang, juga selalu memberikan kehangatan sehingga Rasulullah amat sangat mencintainya. Rasulullah tidak menikah dengan wanita lain ketika Siti Khadijah masih hidup.
ü Tidak pernah putus asa
Tak diragukan lagi dengan sikapnya beliau yang tak pernah putus asa, terutama dalam memberikan semangat dan dukungan kepada Nabi. Saat Nabi menyebarkan risalah kenabiannya, banyak cemoohan, hinaan, cacian yang didapatkannya, sehingga Khadijah selalu memberikan dorongan agar Nabi terus melangkah dalam menyebarkan risalahnya.
Pada suatu ketika Rasulullah SAW menyatakan tentang kepribadian Khadijah dan itu membuat Siti Aisyah merasa cemburu, pernyataanya yakni: “Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua mempertahakannya dan darinyalah aku mendapatkan keturunan.”
Dalam konteks kehidupan masa kini, menemukan sosok istri sebagaimana Khadijah rasanya seperti mencari jarum dalam tumpukan sekam di tengah malam yang gelap gulita. Sangat sulit menemukan figure seorang istri layaknya Siti Khadijah. Meskipun demikian, setidaknya kita masih bias mempelajari beberapa hal yang dapat kita petik dari kehidupannya dan kita masih bias menerapkannya walaupun tak sesempurna beliau.
Rasulullah SAW bersabda “Sebaik-baik wanita ahli Surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun), dan Maryam binti Imran.” (HR. Ahmad)
Jadi, sikap-sikap penuh keteladanan itu haruslah kita terapkan dalam kehidupan. Jangan pernah menyerah dan jangan pernah lelah untuk selalu membimbing, memberikan semangat dan menguatkan suami kapanpun ia membutuhkan. Benar kata pepatah “Dibalik kehebatan suami, pasti ada sosok istri yang tak kalah hebat dibelakangnya.” Karena itu, jadilah wanita hebat dan shalihah. InsyaAllah, kehidupan kehidupan keluarga akan lebih bahagia.
2.    Aisyah binti Abu Bakar
Ummahatul Mukminin, Aisyah r.a. Siapa yang tidak mengenal beliau?  Beliau adalah istri kesayangan Rasulullah SAW, satu hal yang membuatnya menjadi kecintaan Rasulullah SAW adalah kecerdasan dan keluasan wawasannya.
Seperti apakah kecerdasan beliau yang pada akhirnya menjadikannya sebagai rujukan berbagai cabang ilmu? Berikut kisah ringkas Aisyah r.a. dan kecerdasan intelektual yang patut  diteladani oleh kita sebagai seorang muslimah.
Aisyah lahir pada bulan Syawal tahun ke-9 SM atau bulan Juli 614 M. kecerdasan Aisyah sendiri sudah terlihat sejak kecil, diantaranya:
ü Mampu mengingat dengan baik apa yang terjadi pada masa kecilnya, termasuk hadits-hadits yang didengarnya dari Rasulullah SAW.
ü Mampu memahami, meriwayatkan, menarik kesimpulan serta memberikan penjelasan detail hokum fiqih yang terkandung didalam hadits.
ü Sering menjelaskan hikmah-hikmah dari peristiwa yang  dialaminya pada masa kecil.
ü Mampu mengingat dan memahami rahasia-rahasia hijrah secara terperinci hingga bagian-bagian terkecilnya.
Aisyah r.a ditinggal wafat oleh Rasulullah ketika berusia 18 tahun. Bagi kita apa yang dapat dilakukan oleh seorang gadis berusia 18 tahun? Tapi beliau telah menguasai berbagai masalah agama sedemikian luas. Bahkan dikatakan bahwa segala sabda dan perbuatan Rasulullah SAW dapat diingatnya tanpa batas.
Hal lain yang sangat mengagumkan, dikalangan para perawi hadits Aisyah r.a menempati posisi ke 4 dalam jumlah hadits yang diriwayatkan, yaitu sebanyak 2210 hadits. Jumlah tersebut mengalahkan jumlah hadits yang diriwayatkan sahabat lain yang usianya jauh lebih tua dari beliau.
Dalam meningkatkan tarap keilmuan umat Islam, Aisyah r.a secara nyata mengabdikan dirinya dengan mendirikan sebuah madrasah (sekolah). Madrasah Aisyah adalah madrasah ilmu yang paling diminati setelah wafatnya Rasulullah. Ia mendidik secara langsung setiap orang yang meminta pengajaran darinya tanpa pandang bulu. Orang-orang yang meminta fatwa hokum dan menanyakan berbagai persoalan, Aisyah menyimaknya dengan seksama lalu memberikan jawaban yang ia ketahui.
Dari madrasah yang diasuh oleh Aisyah itu, lahir banyak ulama terutama dari kalangan tabi’in. terdapat banyak bukti dalam literatur Islam yang menunjukkan hal itu. Bahkan Qosim, salah satu ahli fiqih terkemuka di Madinah berkata “Aisyah memberikan fatwa secara independent pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan seterusnya hingga akhir hayatnya. Jadi, meskipun Aisyah adalah seorang wanita, tapi kapasitas keilmuannya tidak kalah dari sahabat Rasul yang lain.”
Berdasarkan sudut pandang agama, syariat, akhlak, kemuliaan, dan kesucian, Aisyah tidak bias dibandingkan dengan perempuan terkenal manapun pada masa-masa sebelumnya.
Itulah Aisyah, sosok dengan sifat-sifat paripurna yang telah menghadirkan teladan ideal bagi ratusan juta kaum perempuan di dunia. Semoga kita dapat berkaca, serta terus berusaha untuk meneladani kecerdasan serta kemuliaannya. Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin.
3.    Rabi’ah Al-Adawiyah
Rabi’ah Al-Adawiyah atau Rabiatul Adawiyah merupakan salah satu wanita yang termasyhur pada zamannya. Selain itu Rabiah Al-Adawiyah terkenal sebagai ulama sufi wanita yang mempunyai banyak murid dari kalangan wanita. Rabiatul Adawiyah menganut ajaran zuhud dengan falsafah hubb (cinta) dan syauq (rindu) kepada Allah SWT.
Rabi’ah Al-Adawiyah dilahirkan di Basrah, Iraq pada tahun 95 H (731 M) dari keluarga yang miskin. Kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil. Keluarganya hidup dengan penuh taqwa dan iman kepada Allah SWT, tidak berhenti melakukan dzikir dan beribadah melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Rabiatul Adawiyah tumbuh dalam lingkungan keluarga biasa dengan kehidupan orang sholeh dan penuh dengan kezuhudan.
Yang menonjol darinya ialah ia kelihatan cerdik dan lincah daripada kawan-kawannya. Tampak juga dalam dirinya pancaran sinar ketakwaan dan ketaatan yang tiada dimiliki oleh teman-temannya. Ia juga memiliki keistimewaan lain yaitu kekuatan daya ingatnya yang telah dibuktikan dengan kemampuannya menghafal al-Qur’an saat usianya 10 tahun.
Ketika beranjak remaja, Rabi’ah Al-Adawiyah kehidupan dalam belenggu perbudakan. Tuannya memperlakukannya dengan sangat bengis dan tanpa perikemanusiaan. Tetapi Rabi’ah menjalaninya dengan sabar dan tabah. Shalat malam tetap dilakukannya dengan rutin, lisannya tidak pernah berhenti berdzikir, istighfar merupakan  senandung yang selalu didendangkannya.
Pada suatu malam, majikannya telah melihat tanda kebesaran rohani dari sosok Rabi’ah Al-Adawiyah yaitu ketika Rabi’ah berdoa kepada Allah SWT, “Ya Rabb ! Engkau telah menjadikan aku budak belian seorang manusia sehingga aku terpaksa mengabdikan diriku kepadanya. Seandainya aku bebas, pasti aku akan persembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini untuk berdoa kepadaMu”.
Tiba-iba setelah ia selesai berdoa, terlihat suatu cahaya mendekati kepalanya. Melihat kejadian itu majikannya menjadi takut. Kemudian pada keesokan harinya Rabi’ah telah dimerdekakan oleh majikannya. Dengan kebebasan yang diperolehnya, ia curahkan hidupnya di masjid-masjid dan tempat-tempat pengajian agama. ia kemudian menjalani kehidupan sufi dengan beribadah dan merenungi hakikat hidup. Tidak ada sesuatupun yang memalingkan hidupnya dari mengingat Allah SWT.
Wali Allah yang sampai saat ini sangat menginspirasi banyak kalangan. Doa Rabiah Al-Adawiyah yang banyak member inspirasi, diantaranya berbunyi, “Jika aku menyembahMu karena takut neraka, maka masukkanlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembahMu karena menginginkan surgaMu, maka haramkanlah aku padanya! Akan tetapi , jika aku menyembahMu karena kecintaanku KepadaMu maka berikanlah aku kesempatan untuk melihat wajahMu yang Mahabesar dan Mahamulia itu!”. Cinta Rabi’ah tidak bias disebut sebagai cinta yang mengharap balasan, namun sebuah ketulusan.
Rabi’ah Al-Adawiyah wafat pada tahun 185 H (801 M) sampai pada akhir hayatnya beliau terus bermunajat kepada Allah SWT. Beliau telah menyerahkan seluruh dirinya pada Pencipta yang Maha Esa. Dan karena cintanya yang begitu mendalam, beliau tidak peduli akan kekayaan dunia. Apa yang lebih penting adalah untuk menempatkan diri lebih dekat di sisi Allah SWT.
4.    Lubna of Cordoba
Imperium Bani Umayyah di Andalusia atau kini Spanyol meninggalkan warisan peradaban yang seolah tak pernah habis diulas. Tak hanya warisan sains dan kemegahan arsitektur, Andalusia juga mewariskan tradisi keilmuan yang lintas jender di saat Eropa masih berkutat pada pertanyaan apakah wanita itu titisan iblis atau bukan.
Salah seorang perempuan yang lahir dari buah ketinggian peradaban tersebut adalah Lubna dari Cordoba.
Lubna asalnya seorang hamba dari Spanyol, dimana akhirnya menjadi seorang tokoh istana terpenting pada zaman Umayyah di Cordoba. Beliau ialah setiausaha istana kepada Khalifah ‘Abd al-Rahman III dan anaknya al-Hakam bin ‘Abd al-Rahman.
Karir Lubna dengan cepat melejit. Di usia yang masih muda, dia menjadi salah satu orang paling penting di Andalusia.  Lubna menempati jabatan sekretaris dan panitera Khalifah. Di samping itu dia juga mendapat tugas sebagai pustakawan kekhalifahan dengan koleksi lebih dari 500.000 buku. Selama berabad-abad, perpustakaan yang terbesar di Eropa, hanya bias dikalahkan oleh perpustakaan di Baghdad.
Sejarahwan Andalusia, Ibnu Bashkuwal berkomentar, “Dia ahli di bidang tulis-menulis, gramatika dan puisi. Keahlian di bidang matematika dan sains juga luar biasa. Saat itu tak ada seorangpun lebih mulia disbanding dirinya.” [Ibn Bashkuwal, Kitab al-Silla (Cairo, 2008), Vol. 2: 324].
Sebagai panitera khalifah, dia tak hanya menjadi penerjemah dan penulis dokumen esmi Negara, tetapi Lubna juga menjadi orang yang komentarnya terhadap sebuah buku paling dinanti para ilmuan.
Penerus Abdurrahman, al-Hakam II (memerintah pada 961-976), tetap mempertahankan jabatan Lubna. Gairah al-Hakam II terhadap ilmu dan budayabahkan melebihi sang ayah. Tak heran jika Lubna semakin leluasa mengembangkan bakat keilmuannya.
Di perpustakaan Cordoba, Lubna menghabiskan waktu untuk menulis dan menerjemahkan sejumlah naskah, disamping membuat naskah drama.
Bersama Hasdai bin Shaprut, Lubna menjadi inisiator pembangunan perpustakaan yang sangat terkenal saat itu, Madinah az-Zahra (berarti ‘kota kembang’).
Berdasarkan sejumlah riwayat dari sejarahwan Arab, pada masa al-Hakam II tersebut, ada lebih dari 170 perempuan terdidik yang bertanggung jawab untuk menyalin naskah-naskah penting. Ini sekaligus membuktikan bagaimana perlakuan peradaban Islam terhadap perempuan di kala Eropa masih menganggap potensi perempuan tak lebih dari sekedar tukang sihir.
Kisah Lubna dari Cordoba ini menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk hidup lebih kuat dan tabah dalam kelompok kaum adam yang kadangkala pesimis terhadap golongan wanita.


Demikian tadi adalah beberapa kisah-kisah tokoh inspiasi muslimah untuk kita jadikan panutan dan sumber inspirasi bagi kita khususnya para wanita muslimah. Kaena wanita tak selamanya dan tak semuanya hina seperti anggapan orang-orang jahiliyah. Mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran dari tulisan diatas. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar